Proses kewirausahaan terdiri dari beberapa tahap :
A.
Kesempatan dan
Ide
Kewirausahaan dimulai
dari adanya kesempatan bisnis yang dengan jeli dapat dilihat oleh wiraswasta.
Peluang ini datang dari perubahan-perubahan yang ada dalam lingkungan atau dari
kejelian wirausahawan dalam melihat suatu peluang. Bisa saja peluang/kesempatan
itu datang disaat wirausahawan masih bekerja pada suatu organisasi.
B. Rencana Bisnis Formal
Formal business plan
merupakan dokumen yang disiapkan untuk mendirikan bisnis. Rencana ini biasa dilakukan
oleh perusahaan besar dan juga usaha kecil juga semakin terdorong untuk
melakukan rencana bisnis karena syarat dari bank atau calon pemberi dana.
Rencana ini dapat membantu wirausahawan dalam perencanaan.
C. Halangan untuk Masuk
Banyak halangan yang
terjadi sebelum terjun ke dunia usaha. Misalnya, ide yang dimiliki tidak dapat
dilaksanakan atau tidak cukup praktis (workable). Mungkin saja masih terikat
dengan perusahaan atau organisasi saat ini atau tidak memiliki kemauan untuk
berdiri sendiri. Penyebab lain juga karena ilmu pengetahuan yang minim serta
jaringan kerja dan informasi kurang mendukung, dan sulit menemukan tenaga kerja
yang terampil, tidak memiliki cukup modal, serta halangan buatan seperti
peraturan pemerintah atau asosiasi.
D. Strategi Memasuki Pasar
Wirausahawan bisa memasuki
pasar melalui 3 cara :
1.
Membangun Perusahaan Baru
Membangun perusahaan baru punya kelebihan dan juga
kelemahan. Kelebihannya memulai usaha dari nol membuat semangat kerja masih
segar, terbebas dari jaringan kerja yang ada. Kelemahannya perusahaan baru
memiliki ketidakpastian yang tinggi, informasi yang belum jelas, waktu yang
lama untuk mempersiapkan bisnis, serta sulit memperoleh dana.
2.
Membeli Perusahaan yang sudah ada
Cara ini punya kelebiha yang lebih cepat karena dapat memanfaatkan
jaringan bisnis yang sudah ada dan mapan, informasi sudah ada sehingga lebih
mudah di analisis, dan dapat memperoleh pendanaan yang lebih menguntungkan.
Sedangkan kelemahannya antara lain terikat dengan jaringan yang ada (jika
jaringan tersebut tidak menguntungkan), kurang ide segar, dan mewarisi masalah
yang ada dari perusahaan yang dibeli.
3.
Franchise atau Waralaba
Waralaba merupakan perjanjian lisensi antara
perusahaan pusat dan dealer yang menjalankan lisensi tersebut. Dalam kontrak
bisnis semacam ini, ada dua pihak yang terlibat yaitu franchisor dan franchisee.
Franchisor memegang nama/merek tertentu, sedangkan franchisee menjalankan
bisnis dengan menggunakan merek/nama tersebut.
E. Bentuk Organisasi
Setelah wiraswasta
memasuki pasar, wiraswasta dapat memilih beberapa bentu organisasi, yaitu :
a. Usaha Perorangan
Usaha ini paling sederhana karena tidak banyak memerlukan prosedur formal.
Kewajiban yang ditanggung wiraswasta tidak terbatas sampai kekayaan pribadi.
Usaha ini juga cukup bebas karena tidak diawasi badan tertentu.
b. Firma atau Partnership
Firma merupakan gabungan beberapa orang yang menjadi partner. Modal usaha
ini datang dari para partner, jika ada partner yang hanya memasok modal, tidak
andil dalam pengelolaan operasional, partner tersebut dinamakan partner pasif.
Kewajiban partner tidak terbatas, yang berarti sampai pada kekayaan pribadi.
Usaha ini juga cukup bebas karena tidak diawasi oleh lembaga tertentu.
c.
Perseroan
Jenis usaha ini lebih kompleks tetapi memiliki peluang
berkembang lebih besar karena memiliki modal yang lebih besar. Modal datang
dari para pemegang saham dan kewajiban terbatas hanya sampai modal yang
disetorkan. Saham dapat dijual/diperdagangkan di bursa efek untuk yang
go-public. Manajemen perseroan diawasi oleh dewan komisaris atau badan
sejenisnya yang biasanya mewakili pemegang saham. Investasi pemegang saham
dilakukan dengan menyetor modal saham atau membeli saham.
F.
Faktor Penentu
Keberhasilan
Setelah usaha kecil berjalan,
wirausahawan harus berhati-hati terhadap faktor yang dapat mengagalkan usaha.
Umur usaha yang lebih muda mempunyai kemungkinan gagal yang lebih tinggi.
Kurangnya pengalaman, maupun manajemen yang tidak kompeten merupakan penyebab
kegagalan bisnis.
G. Memelihara Semangat Kewirausahaan
Jika usaha semakin
besar, ada kecenderungan organisasi menjadi birokratis dan kurang kreatif. Untuk
mendorong semangat kewirausahaan, perlu dikembangkan intrapreneurship,
merupakan wiraswasta yang bekerja dalam suatu organisasi untuk mengembangkan
produk atau jasa tertentu. Dalam hal ini diharapkan bisa melakukan suatu tugas
dengan kreatif, yang berbeda dari organisasi lainnya.
Perkembangan jaman mendorong kita untuk melakukan inovasi. Pertama di mulai
dengan revolusi industri 1.0 yang ditandai dengan ditemukannya mesin untuk
industri, kemudian yang kedua yaitu revolusi industri 2.0 ditandai dengan
penemuan teknologi listrik untuk industri. Selanjutnya revolusi industri ketiga
yang di awali dengan munculnya teknologi informasi dan elektronik yang masuk ke
dalam dunia industri yaitu sistem otomatisasi berbasis komputer dan robot.
Peralatan industri sudah tidak lagi dikendalikan oleh manusia, namun sudah
dikendalikan oleh komputer atau lebih dikenal dengan istilah komputerisasi. Dan
yang keempat saatnya memasuki revolusi industri 4.0 yaitu era yang ditandai
dengan adanya konektivitas manusia, data, dan mesin dalam bentuk virtual atau
dikenal dengan istilah cyber physical. Perkembangan revolusi industri membawa
perubahan yang sangat cepat dengan tujuan mulia menciptakan kualitas kehidupan
yang lebih baik. Pada era industri 4.0 ini ada pergeseran trend inovasi ke arah
teknologi digital. Di era revolusi
industri 4.0 memungkinkan otomatisasi di semua bidang untuk mencapai
produktivitas yang efektif dan efisien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar